Ini Pengakuan Mengejutkan Para Wanita Setelah Menjadi Wanita Malam dan dipakai Bule di Batam

Wanita malam di Batam
Ilustrasi : tempat hiburan malam
Berbagai macam alasan di kemukakan oleh para wanita yang terjerumus "bisnis perempuan" di Batam, mulai dari alasan karena terdesak masalah ekonomi, dijebak, sakit hati, coba-coba sampai ingin mencari kepuasan. Seorang pekerja seks komersial (PSK) di kanpung Bule Nagoya Batam, berinisial R. R mengungkapkan bahwa dirinya menjadi pemuas nafsu bayaran karena sakit hati setelah cerai dengan suami.

Selain ingin melampiaskan sakit hatinya karena laki-laki, R juga terhimpit ekonomi. Pasca bercerai dengan suami, dirinya tidak lagi mendapatkan pekerjaan, sementara harus memenuhi kebutuhaan akannya. "Saya diceraikan. Punya anak satu gimana lagi mau hidup. Saya menitipkan anak sama rangtua dan saya ke Batam mencari kereja. Tapi karena cuma tamat SMP, saya sulit mendapatkan pekerjaan. Saya kenall sama om yang sebelah kamar kos saya. Dialah yang suruh saya kerja seperti ini. Mulanya saya nggak mau, tapi lama-lama saya jadi enjoy. uangnya lumayan sih" ungkap R yang sudah tiga tahun jadi wanita bisa pakai.

Berbeda dengan JC, yang juga sering mangkal di sekitar Kampung Bule. Ia mengaku, dirinya menjadi PSK freelancer hanya untuk memuaskan kebutuhan seksnya. Pasalnya, suami tidak mampu memenuhi apa yang ia inginkan. Sehingga dirinya menceraikan suaminya dan menjadi istri kontraaka seorang pria bule.

"Saya jujur tidak saja mencari uang disini, tapi saya mau cari kepuasan. Suami saya nggak bisa bang. Kasihan juga kalau aku paksain. Aku sayang tapi kalau aku kayak gini gimana? Aku cerain dan jadi istri kontrak saja. Selain itu aku dijamin juga sama bule itu. Enak juga sih, untung aku belum punya anak," kata JC yang mengaku blasteran Sunda - Manado itu.

Lain lagi alasan yang diungkapkan freelancer berinisial T. Wanita yang sering berkeliaran di Diskotik Pacific dan Hotel Newtown ini mengaku, mulanya ia hanya coba-coba. T adalah lulusan D3 jurusan Kesekretarisan dan Perkantoraan di salah satu universitas di Malang. Selepas kuliah, ia berangkat ke Batam. Penasaran dengan dunia malam di Bataam, ia bersama seorang rekannya mencoba menikmati gemerlapnya malam di kota indurtri ini, termasuk menjajal dunia esek-esek disini.

Dari coba-coba itu, T mengaku ia menjadi ketagihan. apalagi setelah dirinya sering dipakai orang asing. Bahkan T merasa, hidupnya jauh lebih baik setelah menjadii wanita malam. "Setelah menjadi wanita malam dan sering dipakai bule, membuat hidupku lebih baik," ujar T.

Lebih baik yang ia maksud, terutama dari sisi ekonomis. Pasalnya pendapatannya sebulan yang lebih dari 6 juta, bisa membantu membiayai dua adiknya yang masih kuliah dan ibunya yang hidup menjanda. "Saya kerja seperti ini, apa penilaian orang nga ngefek buat saya. Intinya adik-adik saya bisa kuliah dan ibu saya bisa hidup. Mereka tahu kok aku kayak gini. Tapi aku sudah bilang sama adik-adikku, cukup aku saja yang seperti ini," kata T dengana berlinang air mata.

Sumber : batam.tribunnews.com

No comments: